Telah kita ketahui bahwa tauhid
merupakan sebuah pohon di dalam hati yang cabangnya adalah amalan yang
shalih dan buahnya adalah kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ24
تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا ۗ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ25
“Tidakkah
kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang
baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke
langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap saat dengan seizin
Rabb-nya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk ma-nusia
supaya mereka selalu ingat.” (Ibra-him: 24-25)
Ilmu Tauhid ini merupakan dasar yang dibangun di atasnya
amalan-amalan shalih. Maka tentu saja merupakan prioritas dakwah para
nabi dan para rasul, termasuk nabi kita Muhammad shalallahu ‘alaihi wa
sallam.
Dakwah Beliau shallallâhu ‘alaihi wa sallam
dan para shahabatnya adalah dakwah tauhid dan tidak pernah beliau
shalallahu ‘alaihi wa sallam lepas daripadanya. Dakwah Rasulullah
shalallahu ‘alaihi wa sallam diawali dengan tauhid, diiringi dengan
tauhid dan diakhiri pula dengan tauhid.
Diawali dengan ucapan beliau
shalallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana dikisahkan oleh Abu Sufyan
radhiallahu ‘anhu ketika dia bersama rombongan dagang kaum Quraisy tiba
di Romawi dan dipanggil oleh raja Heraklius. Sang raja bertanya tentang
orang yang mengaku sebagai Nabi di Mekah. Di antara pertanyaannya
adalah: “Apakah yang dia dakwahkan?” Abu Sufyan menjawab: “Dia berkata:
Dan dalam perjalanan dakwahnya beliau shallallâhu ‘alaihi wa sallam selalu mengingatkan dengan tauhid. Setiap menyampaikan satu hukum atau perintah ibadah kepada umatnya senantiasa Beliau mengingatkan bahwa hal itu adalah ibadah kepada Allah yang harus diberikan kepada-Nya dengan ikhlas dan tidak boleh dicampur dengan tujuan-tujuan lain seperti riya’ atau kesyirikan-kesyirikan lainnya. Seperti ketika memerintahkan tentang ibadah shalat dan berqurban:
Demikian pula setiap beliau berangkat bersama para shahabat berjihad, beliau selalu mengingatkan agar mereka jangan memakai jimat, kalung atau gelang-gelang tertentu un-tuk tolak bala dan kekebalan atau menggan-tung-gantungkan pedangnya di pohon terten-tu untuk mencari kehebatan dan kekuatan.
Kita lihat pada satu riwayat, ketika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam satu perjalanan jihad, Rasulullah bersabda kepada Ruwaifi’:
Dan dalam riwayat lain dalam al-Muwattha’:
Berkata Ibnu Katsier dalam tafsirnya bahwa makna islam adalah pasrah dan berserah diri dengan beribadah hanya kepada Allah saja.
Yang demikian karena para nabi seluruhnya mementingkan dan mengutamakan tauhid. Bahkan inti dakwah mereka adalah tauhid. Yaitu memerintahkan kepada kaumnya agar beribadah kepada Allah saja.
Kemudian nabi Ibrahim, bapak para nabi alaihis sallam:
Dan tentang Nabi Hud alaihis sallam Allah berfirman:
Tentang Nabi Shalih diterangkan dalam ayat-Nya:
Dan Nabi Syu’aib Allah kisahkan juga dengan ucapan yang sama, yaitu: “beribadahlah kepada Allah dan tidak ada bagi kalian sesembahan kecuali Dia”.
Demikianlah kenyataan dakwah para nabi di dalam sejarah mereka yang dise-butkan dalam al-Qur’an maupun dalam ha-dits yang shahih. Inti dakwah mereka adalah tauhid. Hal ini tidak seperti apa yang ditaf-sirkan oleh para politikus yang mengesankan bahwa dakwah para nabi adalah dakwah po-litik. Seperti pertikaian nabi Ibrahim dengan Raja Namrud, nabi Musa dengan raja Fir’aun dan lain-lainnya. Mereka mengesankan bah-wa perjuangan para nabi tersebut adalah per-juangan pemberontakan dan perebutan ke-kuasaan. Seperti dalam buku yang ditulis oleh muhammad Surur bin Naif Zaenal Abidin “Minhâj al-Anbiyâ’ fi ad-Da’wati ilallâh”. Namun alhamdulillah buku tersebut sudah dibantah oleh Syaikh Dr. Rabi’ bin Hadi al-Madkhali dalam buku beliau “Manhaj al-Anbiyaa’ fi da’wati ilallah fiihi al-Hikmah wal ‘Aql” (Manhaj Para Nabi Dalam Berdakwah Kepada Allah, di dalamnya ada hikmah dan akal)” dan juga karya Syaikh Ahmad Salam dalam tulisannya yang berjudul “Nadharaat fii Kitab “Minhajul Anbiya’ fi ad-Dakwati Ilallâh”” (Koreksi Ulang terhadap kitab “Manhaj Para Nabi Dalam Berdakwah Kepada Allah”
Oleh karena itu sudah sepantasnya dakwah para rasul tersebut dijadikan sebagai teladan bagi seluruh dakwah-dakwah kaum muslimin yakni memulainya dari tauhid dan terus mengingatkan dengan tauhid. Karena semua dakwah yang tidak dimulai dengan tauhid dan tidak mementingkan tauhid selalu berakhir dengan penyimpangan dan kesesatan.
Akan tetapi mengapa kaum muslimin harus tersinggung ketika diajarkan kepada mereka makna لا إله إلا الله. Mengapa mereka ha-rus marah ketika disampaikan bahaya kesyi-rikan-kesyirikan seperti tawasul kepada orang-orang yang sudah mati, jimat-jimat, perdukunan-perdukunan, atau mencari ber-kah di kuburan walisongo atau kuburan-kuburan lainnya, mencari jodoh di tempat-tempat yang dianggap keramat, seperti sumur tujuh, gunung kemukus dan lain-lainnya? Mereka selalu melecehkan dakwah tauhid dengan menjulukinya wahabi, tekstual, kaku, membuat perpecahan dan lain-lain. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.
Sumber:
http://www.serambiyemen.com/2011/08/tauhid-dakwah-para-nabi.html
قُوْلُوْالآإِلَهَ إِلاَّاللهُ تُفْلِحُوْا
“Ucapkanlah لا إله إلا الله kalian akan selamat.” (HR. Bukhari)
Dan dalam perjalanan dakwahnya beliau shallallâhu ‘alaihi wa sallam selalu mengingatkan dengan tauhid. Setiap menyampaikan satu hukum atau perintah ibadah kepada umatnya senantiasa Beliau mengingatkan bahwa hal itu adalah ibadah kepada Allah yang harus diberikan kepada-Nya dengan ikhlas dan tidak boleh dicampur dengan tujuan-tujuan lain seperti riya’ atau kesyirikan-kesyirikan lainnya. Seperti ketika memerintahkan tentang ibadah shalat dan berqurban:
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ2
“Maka dirikanlah shalat untuk Rabb-mu dan berkurbanlah.”(al-Kautsar: 2) Demikian pula setiap beliau berangkat bersama para shahabat berjihad, beliau selalu mengingatkan agar mereka jangan memakai jimat, kalung atau gelang-gelang tertentu un-tuk tolak bala dan kekebalan atau menggan-tung-gantungkan pedangnya di pohon terten-tu untuk mencari kehebatan dan kekuatan.
Kita lihat pada satu riwayat, ketika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam satu perjalanan jihad, Rasulullah bersabda kepada Ruwaifi’:
يَا رُوَيْفِعُ، لَعَلَّ
الْحَيَاةَ تَطُوْلُ بِكَ، فَأَخْبِرِ النَّاسَ أَنَّ مَنْ عَقَدَ
لِحْيَتَهُ أَوْ تَقَلَّدَ وِتْرًا أَوِ اسْتَنْجِي بِرَجِيْعِ دَابَّةٍ
اَوْ عَظْمٍ فَإِنَّ مُحَمَّدًا بَرِيْئٌ مِنْهُ
“Wahai
Ruwaifi’, barangkali engkau akan menjalani kehidupan yang panjang.
Kabar-kanlah kepada manusia bahwa barangsiapa yang memintal jenggotnya,
menggantung-kan jimat, atau beristinja’ (bersuci) dengan kotoran hewan
dan tulang, maka sesungguh-nya Muhammad berlepas diri darinya.” (HR. Ahmad dari Ruwaifi’)
Ini semua dalam rangka menjaga tauhid mereka dari noda-noda syirik.
Demikian pula di akhir kehidupan beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika beliau shalallâhu ‘alaihi wa sallam akan wafat, beliau ber-wasiat dengan tauhid.
Ini semua dalam rangka menjaga tauhid mereka dari noda-noda syirik.
Demikian pula di akhir kehidupan beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika beliau shalallâhu ‘alaihi wa sallam akan wafat, beliau ber-wasiat dengan tauhid.
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مَرَضِهِ الَّذِي لَمْ يَقُمْ مِنْهُ
لَعَنَ اللَّهُ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُورَ
أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ قَالَتْ فَلَوْلَا ذَاكَ أُبْرِزَ قَبْرُهُ
غَيْرَ أَنَّهُ خُشِيَ أَنْ يُتَّخَذَ مَسْجِدًا
“Ketika Rasulullah shalallahu
‘alaihi wa sallam terkena sakit yang menyebabkan beliau tidak dapat
bangun. Beliau shalallahu ‘alaihi wa sallambersabda: “Allah telah
mengutuk orang-orang Yahudi dan Nasrani karena mereka telah menjadikan
kubur Nabi-nabi mereka sebagai masjid”. Aisyah radhiallahu ‘anha
berkata: “Jika tidak karena itu tentu kuburan beliau akan ditempatkan
(di Baqie’). Namun Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam khawatir akan
dijadikan sebagai masjid.” (HR. Bukhari dan Muslim) Dan dalam riwayat lain dalam al-Muwattha’:
أَللَّهُمَّ لاَ تَجْعَلْ
قَبْرِيْ وَثَنًا يُعْبَدُ اشْتَدَّ غَضَبُ اللهُ عَلَى قَوْمٍ اتَّخَذُوْا
قُبُوْرَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ. (رواه مالك في الموطأ
Ya
Allah janganlah Engkau menjadikan ku-burku berhala yang disembah.
Sungguh besar kemurkaan Allah terhadap kaum yang menjadikan kuburan
nabi-nabinya sebagai masjid. (HR. Malik dalam Muwatha’)
Demikianlah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam memulai
dak-wahnya dengan tauhid, mengiringi dengan tauhid dan mengakhirinya
pula dengan tau-hid. Dan beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa
mewasiatkan umatnya dengan tauhid.
Wasiat merupakan pesan terakhir dalam kehidupan seseorang. Tentunya yang akan disampaikan adalah perkara yang paling utama dan paling penting. Karena ia tidak akan sempat lagi menyampaikan sesuatu apapun setelah itu. Maka disinilah terlihat apa yang dianggap paling penting oleh seseorang da-lam hidupnya. Sebagian manusia mewasiatkan tentang hartanya. Sebagian lainnya me-wasiatkan untuk menjaga keluarga-keluarga-nya. Sebagian lainnya ada yang mewasiatkan dengan perusahaannya, karena itulah yang terpenting dalam kehidupan mereka.
Wasiat merupakan pesan terakhir dalam kehidupan seseorang. Tentunya yang akan disampaikan adalah perkara yang paling utama dan paling penting. Karena ia tidak akan sempat lagi menyampaikan sesuatu apapun setelah itu. Maka disinilah terlihat apa yang dianggap paling penting oleh seseorang da-lam hidupnya. Sebagian manusia mewasiatkan tentang hartanya. Sebagian lainnya me-wasiatkan untuk menjaga keluarga-keluarga-nya. Sebagian lainnya ada yang mewasiatkan dengan perusahaannya, karena itulah yang terpenting dalam kehidupan mereka.
Adapun wasiat para nabi adalah tauhid, yang menunjukkan bahwa yang
paling pen-ting bagi mereka adalah tauhid. Allah Azza Wa Jalla
berfirman:
وَوَصَّىٰ بِهَا إِبْرَاهِيمُ
بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَىٰ لَكُمُ الدِّينَ
فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ132
“Dan
Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula
Ya’-qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah
memilih agama ini bagimu, maka janganlah kalian mati kecuali dalam
(keadaan) islam.” (al-Baqarah: 132)
Berkata Ibnu Katsier dalam tafsirnya bahwa makna islam adalah pasrah dan berserah diri dengan beribadah hanya kepada Allah saja.
Demikian pula wasiat Luqman al-Hakim kepada anaknya, diawali dengan tauhid:
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ13
Dan
(ingatlah) ketika Luqman berkata ke-pada anaknya, di waktu ia memberi
pela-jaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah,
sesungguh-nya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kedzaliman
yang besar”. (Luqman: 13)
Yang demikian karena para nabi seluruhnya mementingkan dan mengutamakan tauhid. Bahkan inti dakwah mereka adalah tauhid. Yaitu memerintahkan kepada kaumnya agar beribadah kepada Allah saja.
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ ۖ 36
“Dan
sesungguhnya Kami telah mengutus para rasul pada tiap-tiap umat (untuk
menyerukan): “Beribadahlah kepada Allah (saja), dan jauhilah Thaghut
itu”… (an-Nahl: 36)
Allah menjelaskan dakwah para rasul-Nya dengan rinci pada berbagai firman-Nya, di antaranya tentang nabi Nuh alaihis sallam:
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَىٰ
قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ
غَيْرُهُ ۖ أَفَلَا تَتَّقُونَ23
“Dan
sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu ia berkata:
“Hai kaumku, beribadahlah kepada Allah (ka-rena) sekali-kali tidak ada
sesembahan bagi-mu selain-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertaqwa
(kepada-Nya)?” (al-Mu’minun: 23)
Kemudian nabi Ibrahim, bapak para nabi alaihis sallam:
وَإِبْرَاهِيمَ إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاتَّقُوهُ ۖ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ16
“Dan
(ingatlah) Ibrahim, ketika ia berkata kepada kaumnya: “Beribadahlah
kepada Allah dan bertaqwalah kepada-Nya. Yang demikian itu adalah lebih
baik bagimu, jika kamu mengetahui”. (al-Ankabut: 16)
Sedangkan tentang nabi Isa alaihis salam Allah berfirman:
وَقَالَتْ طَائِفَةٌ مِنْ أَهْلِ
الْكِتَابِ آمِنُوا بِالَّذِي أُنْزِلَ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَجْهَ
النَّهَارِ وَاكْفُرُوا آخِرَهُ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ72
“Sesungguhnya
telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al-
Masih putera Maryam”, padahal Al-Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani
Israil, ber-ibadahlah kepada Allah Rabb-ku dan Rabb-mu”. Sesungguhnya
orang yang memperse-kutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah
mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka. Dan tidaklah
ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong-pun.” (al-Maidah: 72)
Dan tentang Nabi Hud alaihis sallam Allah berfirman:
وَإِلَىٰ عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا ۗ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۚ أَفَلَا تَتَّقُونَ65
“Dan
(Kami telah mengutus) kepada kaum ‘Aad saudara mereka, Hud. Ia berkata:
“Hai kaumku, beribadahlah kepada Allah, sekali-kali tidak ada
sesembahan bagimu selain dari-Nya. Maka mengapa kamu tidak ber-taqwa
kepada-Nya ?” (al-A’raaf: 65)
Tentang Nabi Shalih diterangkan dalam ayat-Nya:
وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ
صَالِحًا ۗ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ
غَيْرُهُ ۖ قَدْ جَاءَتْكُمْ بَيِّنَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ ۖ هَٰذِهِ نَاقَةُ
اللَّهِ لَكُمْ آيَةً ۖ فَذَرُوهَا تَأْكُلْ فِي أَرْضِ اللَّهِ ۖ وَلَا
تَمَسُّوهَا بِسُوءٍ فَيَأْخُذَكُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ73
“Dan
(Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka Shaleh. Ia
berkata: “Hai kaumku, beribadahlah kepada Allah, sekali-kali tidak ada
sesembahan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang buk-ti yang
nyata kepadamu dari Rabb-mu. Unta betina Allah ini menjadi tanda bagimu,
maka biarkanlah dia makan di bumi Allah, dan janganlah kalian
mengganggunya dengan gangguan apapun, (yang karenanya) kamu akan ditimpa
siksaan yang pedih.” (al-A’raaf: 73)
Dan Nabi Syu’aib Allah kisahkan juga dengan ucapan yang sama, yaitu: “beribadahlah kepada Allah dan tidak ada bagi kalian sesembahan kecuali Dia”.
وَإِلَىٰ مَدْيَنَ أَخَاهُمْ
شُعَيْبًا ۗ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ
غَيْرُهُ ۖ قَدْ جَاءَتْكُمْ بَيِّنَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ ۖ فَأَوْفُوا
الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ وَلَا تَبْخَسُوا النَّاسَ أَشْيَاءَهُمْ وَلَا
تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ
إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ85
“Dan
(Kami telah mengutus) kepada pendu-duk Madyan saudara mereka, Syu’aib.
Ia berkata: “Hai kaumku, beribadahlah kepada Allah, sekali-kali tidak
ada sesembahan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang kepada-mu
bukti yang nyata dari Rabb-mu. Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan
dan janganlah kalian ku-rangkan bagi manusia barang-barang ta-karan dan
timbangannya, dan janganlah kalian membuat kerusakan di muka bumi
sesudah Rabb-mu memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika
betul-betul kamu orang-orang yang beriman”. (al-A’raaf: 85)
Demikianlah kenyataan dakwah para nabi di dalam sejarah mereka yang dise-butkan dalam al-Qur’an maupun dalam ha-dits yang shahih. Inti dakwah mereka adalah tauhid. Hal ini tidak seperti apa yang ditaf-sirkan oleh para politikus yang mengesankan bahwa dakwah para nabi adalah dakwah po-litik. Seperti pertikaian nabi Ibrahim dengan Raja Namrud, nabi Musa dengan raja Fir’aun dan lain-lainnya. Mereka mengesankan bah-wa perjuangan para nabi tersebut adalah per-juangan pemberontakan dan perebutan ke-kuasaan. Seperti dalam buku yang ditulis oleh muhammad Surur bin Naif Zaenal Abidin “Minhâj al-Anbiyâ’ fi ad-Da’wati ilallâh”. Namun alhamdulillah buku tersebut sudah dibantah oleh Syaikh Dr. Rabi’ bin Hadi al-Madkhali dalam buku beliau “Manhaj al-Anbiyaa’ fi da’wati ilallah fiihi al-Hikmah wal ‘Aql” (Manhaj Para Nabi Dalam Berdakwah Kepada Allah, di dalamnya ada hikmah dan akal)” dan juga karya Syaikh Ahmad Salam dalam tulisannya yang berjudul “Nadharaat fii Kitab “Minhajul Anbiya’ fi ad-Dakwati Ilallâh”” (Koreksi Ulang terhadap kitab “Manhaj Para Nabi Dalam Berdakwah Kepada Allah”
Oleh karena itu sudah sepantasnya dakwah para rasul tersebut dijadikan sebagai teladan bagi seluruh dakwah-dakwah kaum muslimin yakni memulainya dari tauhid dan terus mengingatkan dengan tauhid. Karena semua dakwah yang tidak dimulai dengan tauhid dan tidak mementingkan tauhid selalu berakhir dengan penyimpangan dan kesesatan.
Akan tetapi mengapa kaum muslimin harus tersinggung ketika diajarkan kepada mereka makna لا إله إلا الله. Mengapa mereka ha-rus marah ketika disampaikan bahaya kesyi-rikan-kesyirikan seperti tawasul kepada orang-orang yang sudah mati, jimat-jimat, perdukunan-perdukunan, atau mencari ber-kah di kuburan walisongo atau kuburan-kuburan lainnya, mencari jodoh di tempat-tempat yang dianggap keramat, seperti sumur tujuh, gunung kemukus dan lain-lainnya? Mereka selalu melecehkan dakwah tauhid dengan menjulukinya wahabi, tekstual, kaku, membuat perpecahan dan lain-lain. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.
Semoga Allah memberikan petunjuk ke-pada kita dan seluruh kaum muslimin
kepada tauhid dan sunnah. Dan semoga hati-hati kita ditetapkan di
atasnya sampai hari kiamat, amien.
Sumber:
http://www.serambiyemen.com/2011/08/tauhid-dakwah-para-nabi.html

0 komentar :
Posting Komentar