Kehidupan dunia ini memang indah dan memukau, tak pelak banyak
manusia kecuali yang dirahmati oleh Allah terbuai dan terpesona dengan
kehidupan yang semu ini. Dunia telah disifati oleh Allah sebagai
kesenangan yang menipu, tempat berbangga-bangga dengan harta dan
anak-anak. Allah Ta’ala berfirman,
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ
وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي اْلأَمْوَالِ
وَاْلأَوْلاَدِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ
يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي اْلأَخِرَةِ
عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللهِ وَرِضْوَانٌ وَمَاالْحَيَاةُ
الدُّنْيَآ إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُورِ
“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan
dan senda gurau, perhiasan dan saling berbangga diantara kamu serta
berlomba-lomba dalam kekayaan dan anak keturunan. Seperti hujan yang
tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian (tanaman) itu menjadi
kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di
akhirat nanti ada adzab yang keras dan ampunan dari Allah serta
keridlaannya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang
menipu.” (QS. Al-Hadid: 20).
Nabi shallallahu’alaihi wasallam mengingatkan tentang bahaya terlena dengan kehidupan dunia, sebagaimana dalam firman-Nya,
إِنِّ مِمَّا أَخَافُ عَلَيْكُمْ مِنْ بَعْدِي مَا يُفْتَحُ عَلَيْكُمْ مِنْ زَهْرَةِ الدُّنْيَا وَزِينَتِهَا
“Sesungguhnya di antara perkara yang aku khawatirkan atas kalian
setelahku adalah dibukakan kepadamu kesenangan dunia dan perhiasannya.” (HR Bukhari dan Muslim).
Hinanya Kehidupan Dunia
Sebenarnya, banyak orang yang telah memahami hakikat dunia ini, namun
masih banyak pula yang terjebak di dalamnya. Yang paling menyedihkan
adalah, orang yang tidak mengerti sama sekali hakikat dunia. Mereka
adalah orang-orang yang terombang-ambing dalam pusaran gelombang hawa
nafsu yang sengaja dipasang oleh setan untuk dijadikan perangkap dalam
menyesatkan manusia. Padahal harga dunia seisinya telah digambarkan oleh
Nabi shallallahu’alaihiwasallam dalam sabdanya,
لَوْ كَانَتْ الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ؛ مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ
“Andaikan dunia di sisi Allah seharga sayap seekor nyamuk;
niscaya Allah tidak akan memberikan seteguk air pun untuk orang kafir”.
HR. Tirmidzy dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu’anhu dan isnadnya
dinyatakan sahih oleh al-Hakim.
Sayap seekor nyamuk, siapa yang mau? Diberi gratispun kita tidak mau.
Namun anehnya tidak sedikit di antara manusia yang mati-matian berebut
sayap nyamuk tersebut, bahkan sampai mempertaruhkan surga mereka
sekalipun!
Kesenangan dunia dan perhiasannya telah menjadikan banyak manusia lupa dan lalai. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
sangat mengkhawatirkan umatnya dilalaikan dengan mengejar dunia dan
melupakan kehidupan akhirat. Perbuatan demikian dapat menyebabkan kaum
muslimin mendapatkan hal yang tidak diinginkan yaitu:
- Menjadi terhina di hadapan kaum kuffar.
Sebagaimana sabda Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam
إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ
الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمْ الْجِهَادَ سَلَّطَ
اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى
دِينِكُمْ
“Apabila kamu berjual beli dengan cara riba, mengambil ekor sapi,
rela dengan tanaman dan meninggalkan jihad (membela agama), Allah akan
kuasakan kehinaan kepadamu dan Dia tidak akan mencabutnya sampai kamu
kembali kepada agamamu (yang benar).” (HR Abu Dawud dan lainnya).[1]
Ini artinya, kaum muslimin lebih mencintai dunia dan tidak mau
membela agama Allah. Mereka lebih disibukkan dengan mengejar dunia dan
perhiasannya walaupun dengan cara yang diharamkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla.
Allah pun menjadikan kewibawaan kaum muslimin hilang dan Allah jadikan
mereka terhina bagaikan buih yang bawa oleh banjir. Rosulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى
الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ
يَوْمَئِذٍ قَالَ بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ
كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمْ
الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمْ الْوَهْنَ
فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهْنُ قَالَ حُبُّ
الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ
“Hampir-hampir umat-umat kafir saling memanggil untuk melahap
kalian sebagaimana orang-orang lapar saling memanggil untuk melahap
hidangan“. Lalu seorang shahabat berkata: ”Apakah jumlah kita sedikit
waktu itu ? beliau bersabda: ”Justru jumlah kalian banyak pada waktu
itu, akan tetapi seperti buih yang dibawa oleh banjir, dan Allah
benar-benar akan mencabut rasa takut kepada kalian dari dada-dada
mereka, dan melemparkan kepada hati kalian al wahan“. Seorang sahabat
berkata: ”Apakah al wahan itu ? beliau bersabda: ”cinta dunia dan takut
mati.“ (HR Abu Dawud no 4297 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Bani dalam shahih Sunan Abi Dawud).
- Saling menumpahkan darah.
Cinta dunia menjadikan manusia gelap mata dan kikir, sehingga mereka
berlomba mencarinya dengan berbagai macam cara walaupun harus dengan
menumpahkan darah saudaranya, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
اتَّقُوا الظُّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ
الْقِيَامَةِ وَاتَّقُوا الشُّحَّ فَإِنَّ الشُّحَّ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ
قَبْلَكُمْ حَمَلَهُمْ عَلَى أَنْ سَفَكُوا دِمَاءَهُمْ وَاسْتَحَلُّوا
مَحَارِمَهُمْ.
“Jauhilah berbuat zalim karena kezaliman adalah kegelapan pada
hari kiamat. Jauhilah syuhh (sangat kikir) karena sangat kikir itu telah
membinasakan orang-orang sebelum kamu dan membawa mereka untuk
menumpahkan darah dan menganggap halal wanita-wanita mereka.” (HR Muslim).
Sifat syuhh muncul akibat cinta dunia yang amat sangat, Ath-Thibi rahimahullah berkata, “Bakhil adalah kikir dan syuhh adalah bakhil yang disertai berbuat zalim, (dalam hadis ini) disebutkan syuhh setelah menyebutkan zalim untuk menunjukkan bahwa syuhh adalah macam zalim yang paling berat akibat dari cinta dunia dan kelezatannya”. [2]
Sejarahpun telah mencatat bagaimana kaum muslimin saling menumpahkan
darah untuk merebut tahta, sebagaimana disebutkan bahwa ketika Bani
Umayah telah ditumbangkan oleh Bani Abasiyah, setiap harinya
algojo-algojo Bani Abasiyah membunuh delapan puluh orang dari Bani
Umayah lalu mereka menggelar tikar dan makan minum di atas
mayat-mayatnya. Dunia Islam tak pernah sepi dari perang saudara
sebagaimana yang kita baca dalam kitab-kitab sejarah akibat cinta dunia
dan kelezatannya. Allahul musta’an.
- Tidak peduli halal dan haram.
Cinta dunia menjadikan manusia membabi buta tak peduli kepada halal dan haram, tidak ada lagi rasa takut kepada siksa Allah Ta’ala, ia mencari rizki tanpa mempedulikan hukum-hukum Allah sebagaimana disebutkan dalam hadis:
لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لَا يُبَالِي الْمَرْءُ بِمَا أَخَذَ الْمَالَ أَمِنْ حَلَالٍ أَمْ مِنْ حَرَامٍ
“Sesungguhnya akan datang kepada manusia suatu zaman dimana
seseorang tidak memperdulikan dengan apa ia mengambil harta, apakah dari
yang halal ataukah dari yang haram“. (HR Bukhari).
Perkara-perkara ini yang dikhawatirkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
atas umatnya apabila kesenangan dunia dibukakan kepada mereka, oleh
karena itu beliau menganggap bahwa orang yang rakus dengan dunia dan
tamak kepada harta lebih berbahaya dari serigala lapar, beliau bersabda:
مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلَا فِي غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ
“Tidaklah dua serigala lapar yang dilepaskan kepada seekor
kambing lebih berbahaya untuk agama seseorang dari orang yang rakus
terhadap harta dan kedudukan“. (HR. At-Tirmidzi dan lainnya).
Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Ini adalah permisalan yang agung yang diumpamakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
bagi kerusakan agama seorang muslim akibat rakus terhadap harta dan
kedudukan dunia dan bahwa kerusakannya tidak lebih berat dari rusaknya
kambing yang dimangsa oleh dua ekor serigala lapar..”. [3]
- Mengorbankan prinsip-prinsip agama untuk menjaga kedudukan sosial.
Allah ta’ala menggambarkan akibat perilaku tersebut dalam firman-Nya,
أُولَئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا بِالْآَخِرَةِ فَلَا يُخَفَّفُ عَنْهُمُ الْعَذَابُ وَلَا هُمْ يُنْصَرُونَ.
Artinya: “Mereka itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia
dengan (kehidupan) akhirat. Maka tidak akan diringankan azabnya dan
mereka tidak akan ditolong”. QS. Al-Baqarah: 86.
- Menghalalkan segala cara demi meraih kursi jabatan.
Rasulullah shallallahu’alahiwasallam menasehatkan,
لَا تَسْأَلْ الْإِمَارَةَ! فَإِنَّكَ إِنْ أُوتِيتَهَا
عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْهَا، وَإِنْ أُوتِيتَهَا مِنْ غَيْرِ
مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا
“Janganlah meminta-minta jabatan, sebab jika engkau mendapatkan
suatu jabatan lantaran permintaan darimu niscaya engkau tidak akan
mendapatkan pertolongan dari Allah ta’ala. Namun jika engkau
mendapatkannya bukan karena permintaan darimu niscaya engkau akan
mendapatkan bantuan (dari Allah ta’ala) dalam mengembannya”. (HR. Bukhari dan Muslim dari Abdurrahman bin Samurah radhiyallahu’anhu)
- Mengorbankan tali silaturrahim karena berebut warisan.
Dari Jubair bin Muth’im bahwa Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ
“Tidak akan masuk surga pemutus (silaturrahim).” (HR. Bukhari dan Muslim)
Perbandingan Dunia dan Akherat
Berkata syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah,
Bandingkanlah kehidupan dunia dan kehidupan akhirat, agar kita
mengetahui perbedaan kedua negeri tersebut. Di negeri akhirat terdapat
semua yang diinginkan oleh jiwa dan mata. Surga adalah darus salâm
(kampung kedamaian), yang terlepas dari berbagai kekurangan, bala`,
penyakit, kematian, kesusahan maupun usia yang tua. Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda:
لَمَوْضِعُ سَوْطٍ أَحَدِكُمْ فِي الْجَنَّةِ خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا
Sesungguhnya tempat cemeti kalian di surga itu lebih baik daripada dunia dan seisinya [HR. Ahmad no. 21732]
Ini adalah ucapan seorang nabi yang jujur lagi dipercaya.
Sesungguhnya tempat tongkat di surga itu lebih baik dari dunia ini
semuanya, dari awal hingga akhirnya dengan segala kenikmatan dan
kemewahan yang ada di dalamnya. Apabila ini saja lebih baik dari dunia
semuanya, lalu bagaimana dengan kenikmatan sejenak yang engkau dapatkan
di dunia?
Wahai kaum Muslimin, Sungguh mengherankan sekali ada kaum yang lebih
mengutamakan kehidupan dunia dari pada kehidupan akhirat. Padahal
akhirat itu lebih baik dan kekal. Mereka lebih mengutamakan dunia dari
pada akhirat. Mereka mencari dunia dan meninggalkan amal akhirat. Meraka
sangat berambisi untuk mendapatkan dunia dan melewatkan apa yang Allah
Azza wa Jalla wajibkan kepada mereka. Mereka tenggelam dalam hawa nafsu
dan kelalaian.
Mereka tidak lagi ingat dari kewajiban bersyukur kepada dzat yang
telah memberikan nikmat kepada mereka. Ciri-ciri mereka yaitu
bermalas-malasan mengerjakan shalat dan merasa berat untuk berdzikir
kepada Allah Azza wa Jalla. Di dunia ini mereka berani bermuamalah riba
yang telah direkayasa, atau dengan riba terang-terangan tanpa merasa
salah sama sekali. Mereka berbohong dalam setiap pembicaraan, tidak
menunaikan janji-janji mereka, tidak berbuat baik kepada orang tua dan
tidak menyambung silaturahmi.
Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang lebih
mengutamakan akhirat dari pada dunia, berilah kami kebaikan di dunia dan
kebaikan di akhirat serta jagalah kami dari api neraka.[4]
[1]
Abu Dawud no 3462 dari jalan Haywah bin Syuraih dari Ishaq Abu
Abdirrahman Al Khurrasani dari ‘Atha Al Khurrasani dari Nafi’ dari ibnu
Umar. Qultu, “Sanad hadis ini lemah karena Ishaq bin Asid Abu
Abdirrahman adalah perawi yang lemah demikian pula ‘Atha Al-Khurrasani.
Namun imam Ahmad no 4593 meriwayatkan dari jalan Abu Bakar bin ‘Ayyasy
dari Al-A’masy dari Atha’ bin Abi Rabah dari Ibnu Umar. Qultu, “Sanad
ini shahih”. Dan hadis ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Bani dalam Silsilah Hadis Shahih, no. 11.
[2] Faidlul Qadiir: 1/175.
[3] Syarah Hadits Maa Dzi’baani: hal 21.
[4] Dikutip dari Adl-Dhiyaaul Laami` Minal Khuthaabil Jawaami``, karya Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin: 6/282.
Sumber:
http://www.serambiyemen.com/2013/03/perkara-yang-ditakutkan-oleh-rasulullah-shallallahualaihi-wasallam-atas-umatnya.html
Sumber:
http://www.serambiyemen.com/2013/03/perkara-yang-ditakutkan-oleh-rasulullah-shallallahualaihi-wasallam-atas-umatnya.html

0 komentar :
Posting Komentar