Diriwayatkan dalam sebuah hadits maudhu’ (palsu):
حب الوطن من الإيمان
“Cinta tanah air adalah sebagian dari iman.”
Berkata syaikh Al-Albani ketika mengomentari hadits diatas:
ومعناه
غير مستقيم إذ إن حب الوطن كحب النفس والمال ونحوه، كل ذلك غريزي في
الإنسان لا يمدح بحبه ولا هو من لوازم الإيمان، ألا ترى أن الناس كلهم
مشتركون في هذا الحب لا فرق في ذلك بين مؤمنهم وكافرهم؟ !
“Hadits
tersebut (Disamping maudhu’), ditinjau dari segi makna pun tidak lurus,
hal itu dikarenakan cinta kepada tanah air seperti halnya cinta kepada
jiwa, harta dan semisalnya. Yang mana kecintaan terhadap hal-hal
tersebut adalah bagian dari tabi’at manusia tidak terpuji seorang ketika
mencintainya dan tidak pula tercela, serta bukan juga bagian dari
kensekuensi keimanan. Hal itu sebagaimana anda lihat, bahwa seluruh
manusia cinta kepada tanah airnya baik yang mukmin maupun kafir.”
[1]Beliau
rahimahullah juga berkata ditempat yang lain, “Cinta tanah air adalah
hal yang bersifat fitrah, seperti kecintaan seorang terhadap kehidupan
dan benci mati. Oleh karena itu jika seorang cinta terhdap kehidupan
maka itu tidaklah terpuji atau pun tercela secara dzatnya, akan tetapi
akan menjadi terpuji atau tercela tergantung dari pemanfaatan hidupnya.
Sebagaimana sabda Nabi shallallahu’alaihi wasallam,
خيركم من طال عمره وحسن عمله وشركم من طال عمره وساء عمله
“Sebaik-baik
kalian adalah seorang yang panjang umurnya lagi baik amalannya, dan
sejelek-jelek kalian adalah seorang yang panjang umurnya lagi jelek
amalannya.” [2]
Oleh karena itu cinta kepada tanah air adalah bagian dari tabi’at manusia; Allah Ta’ala berfirman tentang orang-orang Yahudi,
وَلَوْ أَنَّا كَتَبْنا عَلَيْهِمْ أَنِ اقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ أَوِ اخْرُجُوا مِنْ دِيارِكُمْ مَا فَعَلُوهُ
“Dan
Sesungguhnya kalau kami perintahkan kepada mereka: “Bunuhlah dirimu
atau keluarlah kamu dari kampungmu”, niscaya mereka tidak akan
melakukannya ...” (An-Nisa’: 66)
Kenapa
mereka sampai demikian? Hal itu dikarenakan setiap orang memiliki
tabi’at cinta dan memiliki kecenderungan terhadap tanah airnya. Namun
tidak boleh semata- mata seorang cinta kepada tanah airnya seperti cinta
kepada negara Palalestin -karena itu adalah tanah airnya misalnya-
kemudian seorang mengatakan cinta Paletin adalah bagian dari agama, ini
jelas tidak diperbolehkan”…..kemudian beliau melanjutkan, “Benar Nabi
shallallahu’alaihi wasallam tatkala pergi hijrah ke Madinah beliau
melihatat kearah Makkah sembari mengatakan “Engakau adalah negeri yang
paling aku cintai….” namun perlu diketahui bahwa hadit tersebut tidak
ada kaitannya dengan anjuran cinta kepada tanah air, Nabi mengatakan
demikian dikarenakan konteksnya berkaitan dengan mencintai negeri yang
paling utama di sisi Allah. Kemudian Nabi bersabda, “Kalau bukan karena
penduduk mengusirku, aku tidak akan keluar.”[3]
Mengapa Nabi mengatakan demikian? Apakah karena semata-mata cinta tanah
airnya? Tentu tidak, akan tetapi Nabi mengucapkan demikian dikarenakan
Makkah adalah negeri yang paling dicinti oleh Allah, kemudian negeri
yang dicintai oleh beliau sendiri sebagai Rasul-Nya. Oleh karena itu
sabda Nabi di atas tidak bisa dipraktekkan untuk seluruh negeri.
Sebagai
contoh: Apabila seorang berasal dari negeri Mesir, kemudian dia diusir
dari negeri tersebut dengan paksa tidak boleh baginya untuk mengatakan,
‘Engkau adalah negeri yang paling dicintai oleh Allah, dan negeri yang
paling aku cintai, kalau seandainya bukan karena penduduk mengusirku aku
tidak akan keluar darimu’, jelas ini adalah ucapan yang tidak
diperbolehkan. Oleh karena itu wahai saudaraku -mudah-mudahan Allah
memberkahimu- sesungguhnya ilmu
itu adalah cahaya, oleh karena itu tidak diperbolehkan bagi seseorang
untuk berbicara tanpa ilmu dikarenakan Allah berfirman,
وَلا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤادَ كُلُّ أُولئِكَ كانَ عَنْهُ مَسْؤُلاً (36)
“Dan
janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan
tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu
akan diminta pertanggungan jawabnya.” (Al-Isra’: 36)
0 komentar :
Posting Komentar